THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Saturday, May 30, 2009

kearifan cinta

Kemuliaan seseorang tidak terletak pada kedudukan, prestasi pengetahuan, keahlian apalagi harta yang dimilkinya. Itu semua akan berlalu dan sudah pasti akan habis ditelan waktu.


Akhlak perilaku terpujilah letak kemuliaan seseorang. Maka tidak usah heran banyak pemimpin yang dicemooh rakyatnya, pendusta-pendusta agama dan si kaya yang terlaknat karena akhlaknya tidak sebanding dengan dengan kekayaan mereka.


Para Nabi tidak mendapat kedudukan dan tetesan ilmu Allah atas kemauan mereka. Akhlak terpujilah yang menghantarkan mereka pada kemuliaan dunia akherat tersebut.


Akhlak terpuji adalah sebuah proses yang dilalui untuk mendapatkan piala kemuliaan. Katakanlah, jika engkau melihat piala kejuaraan, apakah engkau akan memuji sembarang orang yang memegang piala tersebut ataukah engkau akan memuji orang yang telah berjuang keras untuk mendapatkannya?


.....


Alhamdulillah...

Segala puji hanya bagi Allah, karena hanya Engkau yang berhak dipuji maka tiada patut aku memuji-muji makhluk lain apalagi diriku ini. Ketakutanku bahwa aku akan dicemooh banyak orang, kekhawatiranku bahwa aku akan dijauhi oleh kawanku adalah sebuah kedustaan yang timbul dari dalam diriku. Yang demikian karena aku masih memandang diriku ini tinggi sehingga tak mau dijatuhkan oleh kesulitan.


Jika hanya Allah yang berhak dipuji mengapa aku masih khawatir akan dicela orang?

Jika hanya Allah yang berhak dipuji mengapa aku masih mencari-cari perhatian dan penghargaan dari seseorang?


.....


sungguh bukan kemiskinan, musibah, bencana dan kesulitan-kesulitan hidup yang kutakuti dalam hidup ini.


Tapi keruhnya fikiran, gejolak hati, mati dan membatunya perasaan yang paling kutakuti ya Allah...


Karena itu adalah awal dari musibah besar dalam kehidupan


......


Maha suci Allah yang terbebas dari segala kesalahan, yang tiada membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Sungguh betapa sering aku membebani diriku dengan kesulitan-kesulitan, meragukan kebesaran-Mu, mengacuhkan panggilan-Mu demi memenuhi panggilan makhluk. Sifat-sifat-Mu sungguh tak dapat membekas dalam perasaan kami, maka tak heran sikap-sikap kamipun terhadap sesama penuh dengan kebencian dan mengingkari sifat-sifat-Mu.


Engkau yang menciptakan kami, tapi kami tidak mengenal-Mu dengan baik. Sehingga kami tidak mengenal diri kami sendiri. Betapa sering kami mencelakai diri kami sendiri, menjadi seseorang, meniru-niru seseorang karena kami tidak memiliki identitas jatidiri.

0 comments: